Sejarah Museum Geologi Bandung – Museum Geologi di bangun pada tahun 1928 dengan gaya arsitektur art deco dan dirancang oleh arsitek kebangsaan Belanda bernama Menalda Van Schouwenburg. Meseum Geologi didirikan pada tanggal 16 Mei tahun 1929. Meseum ini di bangun dengan tujuan untuk pendokumentasian hasil-hasil penelitian di bidang kebumian. Penelitan tersebut menghasilkan banyak bantuan dan fosil sebagai penyelidikan geologi di Indonesia. Sehingga untuk menampung benda-benda tersebut, pemerintah pada masa itu membangun sebuah gedung penelitian di Rembraant Straat Bandoeng dengan nama Geologische Museum.

Pada tahun 1999 museum geologi mendapat dana bantuan dari pemerintah Jepang sebesar 754,5 juta yen untuk direnovasi. Perenovasian berlangsung selama 1 tahun tepatnya tanggal 20 Agustus tahun 2000. Pembukaannya diresmikan oleh wakil presiden pada saat itu ibu Megawati Soekarnoputri yang didampingi oleh menteri  pertambangan dan energi bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

berwisata museum geologi

@diobastiawan

Museum Geologi sudah mengalami banyak perubahan setelah di renovasi. Penataan ruangan dibagi menjadi 3, yaitu meliputi sejarah kehidupan, geologi Indonesia, serta geologi dan kehidupan manusia. Penambahan sarana dan prasarana serta penggunaan teknologi modern untuk pengembangan penyampaian informasi kepada pengunjung museum ini.

Museum Geologi ini menjadi museum tertua dan satu-satu nya di Indonesia bahkan menjadi museum terbesar di Asia Tenggara.

  • Pada Masa Penjajahan Belanda

Berdirinya Museum Geologi ini identik dengan keberadaan Belanda pada zaman kolonialisme di Indonesia dan juga pengaruh dunia, dimana para ahli geologi Eropa Tengah pada masa itu sedang intensif melakukan banyak kegiatan penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Indonesia. Pada saat Eropa mengalami revolusi industri di pertengahan abad ke-18, mereka sangat memerlukan banyak jenis bahan tambang yang digunakan sebagai bahan dasar industri mereka.

Melihat adanya peluang yang bagus, pemerintah Hindia Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian yang berada di wilayah Nusantara pada masa itu. Dengan proyek ini, perkembangan indutri  di Belanda diharapkan dapat didukung dengan keberadaannya. Pada tahun 1850, dibentuklah lembaga Dienst van het Mijnwezen. Lembaga ini kemudian berganti nama pada tahun 1922 menjadi Dienst van Mijnbouw yang bertugas untuk menyelidiki geologi dan sumberdaya mineral di seluruh wilayah kepulauan Indonesia.

  • Pada Masa Penjajahan Jepang

Ketika masa penjajahan Belanda berganti ke Jepang, fungsi dan pemilik dari Museum Geologi Bandung juga mengalami perubahan. Pada saat Jepang dinyatakan kalah dari di Perang Dunia II, keberadaan Dienst van den Mijnbouw pun berakhir. Letjen H. Ter Poorten atas nama Pemerintah Kolonial Belanda menyerahkan kekuasaan territorial Indonesia kepada Letjen H. Imamura pada tahun 1942. Penyerahan tersebut dilakukan di Kalijati, Subang. Dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia, pengurusan Gedung Geologisch Laboratorium berpindah dan diberi nama Kogyo Zimusho. Tetapi setahun kemudian, namanya berganti lagi menjadi Chishitsu Chosacho. Simak juga sejarah Museum Banten.

sejarah museum geologi

  • Pada Masa Kemerdekaan

Keberadaan Sejarah Museum Geologi Bandung Secara Singkat ini memiliki fungsi dan manfaat yang berharga bagi kesejahteraan bangsa Indonesia di kemudian hari, sehingga Belanda melakukan upaya besar untuk merebut paksa Museum Geologi di kota Bandung ini ada tahun 1945. Pada masa itu, tentara sekutu pimpinan Amerika dan Inggris membonceng tentara bentukan Belanda bernama NICA. Karena tidak ingin berpindah tangan dan seluruh dokumen hasil penelitian yang ada di museum direbut oleh NICA Belanda, Museum Geologi Bandung pun sempat berpindah tempat ke beberapa tempat seperti Jalan Braga No. 3 dan No. 8 kota Bandung, bahkan hingga ke luar daerah seperti Tasikmalaya, Solo, Magelang, dan Yogyakarta, sebelum akhirnya pada tahun 1950, semua dokumennya dikembalikan ke Bandung.